headerphoto

E. Kedudukan Penyair Dalam Masyarakat Arab Jahiliyah

Senin, 13 April 2009 20:58:51 - oleh : admin

A.     Kedudukan Penyair Dalam Masyarakat Arab Jahiliyah

Bangsa Arab sangat gemar menggubah syair, mereka memandang bahwa setiap penyair mempunyai kedudukan yang sangat penting dan terhormat di dalam masyarakat, manakala ia telah mampu mengangkat derajat kaumnya atau kabilahnya melalui gubahan syair-syairnya. Mengingat perannya yang begitu penting dalam suatu tatanan dalam masyarakat jahili, maka para penyair mempunyai  banyak fungsi, diantaranya :

1.      Sebagai pemberi semangat, dorongan dan motifasi kepada pasukan yang akan berperang, sehingga  diharapkan dorongan dan motifasi yang dikobarkan penyair lewat syairnya mampu mempengaruhi  jiwa dan semangat pasukan yang  berperang diharapkan nantinya akan mendapatkan kemenangan yang gemilang.

2.      Sebagai Pemberi dukungan terhadap kontestan yang akan dipilih atau  diangkat sebagai ketua adat, atau  kepala kabilah. Bila seorang penyair  telah mempunyai status social yang tinggi, syair-syairnya popular dan terkenal, maka penyair ini akan lebih mudah mempengaruhi  jiwa  sipemilih  sehingga diharapkan akan mendapat perolehan suara yang terbanyak bagi kontestan yang diunggulkan penyair itu.

3.      Seringkali  terjadi antar kabilah itu berperang, dan selalu memakan waktu  yang cukup lama, korban yang tidak sedikit, kerugian-kerugian lainnya yang telah  mereka terima, kemudian, acapkali sering mengalami kebuntuan dalam mencari jalan penyelesaiannya. Maka dengan kefasihan bahasa syairnya, seorang penyair  dalam melantunkan syairnya,, ia mampu mempengaruhi kubu-kubu yang sedang bertikai. Berbagai pergolakan  dalam konflik dapat dilumpuhkan dengan cara  memberikan gambaran -gambaran kenyamanan jiwa yang damai, nasihat-nasihat, memberikan penjelasan-penjelasan dari suatu kerugian yang diakibatkan peperangan dan lain sebagainya.


Bangsa Arab adalah bangsa yang amat senang terhadap puisi, karena itu mereka memandang para penyair sebagai orang yang memiliki kedudukan penting dalam masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena seorang penyair dapat membela kehormatan kaum, keluarga, atau bangsanya. Bila di dalam sebuah kaum atau bangsa mereka menemukan seorang pemuda yang pandai dalam mencipta dan menggubah puisi, maka pemuda tersebut akan dimuliakan oleh seluruh anggota kabilah dari suku itu. Karena mereka beranggapan bahwa pemuda itu pasti akan menjadi tunas yang akan membela kaum atau bangsa dari segala serangan dan ejekan dari penyair kaum atau bangsa lain.

Bagi bangsa Arab, para penyair memiliki kedudukan yang tinggi, keputusan yang dikeluarkan oleh seorang penyair akan selalu dilaksanakan. Bagi mereka seorang penyair merupakan penyambung lidah yang dapat mengungkapkan kebanggaan dan kemuliaan mereka. Ibnu Rasyik meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul ‘Umdah, ia mengatakan:


"Biasanya setiap kabilah bangsa Arab yang mendapatkan seorang pemuda yang dapat merangkum sebuah gubahan puisi, maka anggota kabilah itu berdatangan untuk memberi ucapan selamat, dan mereka menyediakan berbagai aneka macam makanan. Sementara kaum wanita pun ikut berdatangan sambil memainkan rebana seperti yang biasa mereka mainkan dalam sebuah acara perkawinan. Kaum laki-laki, baik yang tua maupun yang muda, sama-sama bergembira. Karena mereka beranggapan bahwa penyair adalah seorang pembela kabilah dari serangan dan ejekan penyair dari kabilah lain, dan penyair itu pasti akan menjaga nama baik kabilahnya sendiri, yang akan mengabadikan kebanggaan-kebanggaan mereka dan yang akan menyebarluakan kebaikan-kebaikan mereka. Kebiasaan tidak memberikan sambutan hangat, kecuali kepada anak bayi yang baru dilahirkan ibunya, kepada seorang penyair, dan kepada kuda kesayangan"


Bangsa Arab telah menganggap betapa pentingnya peranan seorang penyair. Sehingga seringkali mereka mengiming-imingi seorang penyair yang dapat memberikan semangat dalam perjuangan dengan memberikan sokongan suara bagi seseorang agar dapat diangkat sebagai kepala kabilah. Adapula yang menggunakan mereka sebagai perantara untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi antara kabilah, bahkan ada juga yang menggunakan penyair untuk memintakan maaf dari seseorang penguasa.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang miskin yang bernama Muhallik, orang itu mempunyai tiga orang puteri yang belum mempunyai jodoh dikarenakan kemiskinan mereka. Pada suatu waktu, keluarga ini mendengar kedatangan al-A'sya seorang penyair Arab Jahiliyyah yang terkenal ke kota Mekkah, maka isterinya meminta kepada suaminya untuk mengundang al-A'sya ke rumahnya. Setelah al-A'sya datang ke rumah miskin itu, maka isterinya memotong seekor unta untuk menjamu al-A'sya. Penyair ini sangat heran dengan kedermawanan orang miskin ini. Ketika ia keluar dari rumah itu, ia langsung pergi ke tempat orang-orang yang sedang berkumpul untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dalam suatu bait puisinya yang sangat indah. Setelah ia membacakan puisi itu, sehingga dalam waktu yang tidak beberapa lama banyak orang yang datang meminang ketiga puteri Muhallik. Adapun bait puisi yang diucapkan al-A'sya seperti dibawah ini:


ارقت وما هذا السّهاد المؤرّق # وما بى من سقم وما بى تعشّق

لعمرى قد لاحت عيون كثيرة # إلى ضوء نار فى اليفاع تحرق

تشبّ لمقرورين يصطليانها # وبات على الناّر النّدى والمحلّق

رضيعى لبان ثدى أمّ تقاسما # باسحم داج عوض لا تتفرّق

ترى الجود يجرى ظاهرا فوق وجهه # كما زان متن الهند وانى رونق

يداه يدا صدق فكفّ مبيدة # وكفّ إذا ما ضنّ بالمال تنفق


"Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta"

"Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu"

"Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang kedinginan di malam itu, dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya sedang bermalam"

"Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu"

"Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan"

"Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang lain untuk berderma"


Dalam riwayat lain diceritakan. ketika al-A'sya mendengar diutusnya Nabi Muhammad Saw dan berita mengenai kedermawanannya, maka penyair ini sengaja datang ke kota Mekkah dengan membawa suatu kasidah yang telah dipersiapkan untuk memuji Nabi Muhammad Saw. Namun, sayang sekali maksud baik ini dapat digagalkan oleh pemuka bangsa Quraisy. Ketika Abu Sufyan mendengar kedatangan al-A'sya, Abu Sufyan langsung berkata kepada para pemuka Quraisy:


والله لئن أتى محمدا أو اتبعه ليضرّ منّ عليكم نيران العرب بشعره, فاجمـعوا له مائة من الإبل, ففعلوا وأخذها الأعشى ورجع...


"Demi Tuhan, bila al-A'sya bertemu dengan Muhammad dan memujinya, maka pasti dia akan mempengaruhi bangsa Arab untuk mengikuti Muhammad. Karena itu, sebelum itu terjadi, kumpulkanlah seratus ekor unta dan berikan kepadanya agar tidak pergi menemui Muhammad".


Kemudian, saran Abu Sufyan ini, dituruti oleh bangsa Quraisy, yang akhirnya al-A'sya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan beliau. Adapun puisi yang telah dipersiapkan olehnya untuk memuji Nabi Muhammad Saw. seperti dibawah ini:


فآليت لا أرنى لها من كلالة # ولا من وجيّ حتى تلاقى محمدا

متى ما تناخى عند باب هاشم # تراحى وتلقى من فواضله ندا

نبىّ يرى مالا ترون وذكره # أغار لعمرى فى البلاد وأنجدا

له صدقات ما تغب ونائل # وليس عطاء اليوم يمنعه غدا


"Demi Allah, onta ini tidak akan aku kasihani dari keletihannya, dan dari sakit kakinya sebelum dapat bertemu dengan Muhammad"

"Nanti jika kau telah sampai ke pintu Ibnu Hasyim, kau akan dapat beristirahat dan akan mendapatkan pemberiannya yang berlimpah-limpah"

"Seorang Nabi yang dapat mengetahui sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mereka, dan namanya telah tersiar di seluruh negeri dan di daerah Nejed"

"Pemberiannya tidak akan terputus selamanya, dan pemberiaannya sekarang tidak akan mencegah pemberiannya di hari esok"

 

 

Kisah-kisah seperti yang disebutkan di atas, merupakan sedikit dari banyaknya kisah yang dapat memberikan keterangan kepada kita mengenai betapa besar peranan seorang penyair dalam kehidupan masyarakat Arab. Peranan penyair ini tidak saja berhenti pada masa Jahiliyyah. Bahkan dalam penyiaran modern ini, penyair memiliki peranan yang cukup besar. Karena orang-orang Quraisy dalam melancarkan serangan mereka terhadap Islam tidak terbatas hanya dengan senjata (peperangan). Bahkan mereka juga menggunakan lidah penyair untuk menyerang dan menjelek-jelekan Islam. Untuk menghadapi hal ini, Nabi Muhammad Saw juga mempersiapkan penyair Islam untuk menghadapi ejekan orang kafir. Nabi Saw sangat menyukai puisi para penyair Islam, seperti Abdullah bin Ruwaihah, Ka'ab bin Malik, dan Hassan bin Tsabit. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Khattib dan Ibnu Asakir, bahwa Nabi SAW pernah memerintahkan Hassan bin Tsabit untuk membalas ejekan kaum musyrikin Quraisy;


روي الخطيب وابن عساكر عن حسّان إنّ النبى صلّى عليه وسلّم قال له : اهج المشركين وجبريل معك إذا حارب اصحابي بالسّلاح فحارب أنت باللسان


"Balaslah ejekan kaum musyrikin itu, semoga Jibril selalu menyertaimu. Jika para sahabatku yang lain berjuang dengan senjata, maka berjuanglah kamu dengan lisanmu (kepandaian syairmu)".


Dari gambaran di atas dapat kita simpulkan bahwa peranan penyair dalam kehidupan bangsa Arab sangat tinggi, sebab bangsa Arab merupakan bangsa yang sangat gemar terhadap puisi.

Kedudukan puisi dan penyairnya sangat tinggi di mata orang Arab Jahiliyyah. Sebuah karya puisi dapat mempengaruhi, bahkan mengubah sikap atau posisi seseorang atau sekelompok orang terhadap sikap atau posisi orang dan kelompok lainnya. Para penyair, dengan demikian juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Kedudukan atau pengaruh sedemikian ini hanya dapat ditandingi oleh para politisi tingkat tinggi di zaman modern ini. Kekuatan penyair bersumber dari kekuatan isi karyanya. Kedudukan puisi Arab Jahiliyyah  juga diakui, atau setidak-tidaknya diberi kesaksian, oleh Islam. Salah satu surat dalam al-Quran bahkan bernama asy-Syu'ara (para penyair).

Puisi tidak jarang menjadi rujukan umum dalam berbagai kesempatan dan penyairnya sering dijadikan sebagai ensiklopedi berjalan. Untuk menafsirkan kata-kata konotatif (kalimat musytarak) dalam al-Quran atau hadits Nabi Saw, para ulama sering menggunakan kata-kata yang terdapat dalam puisi sebagai penguat atau perbandingan dalam mengartikan kata-kata konotatif itu.


kirim ke teman | versi cetak

Berita "Sejarah Sastra Arab" Lainnya