headerphoto

Fonetik dan Fonologi Arab

Senin, 13 April 2009 20:31:49 - oleh : admin

alah satu pengetahuan yang diperlukan untuk memahami suatu bahasa adalah pengetahuan tentang posisi dan fungsi suara dalam bahasa juga bagaimana suara itu dirangkai bersama untuk membentuk beberapa unit makna. Oleh karena itu, pengetahuan tentang suatu bahasa tidak dianggap lengkap dengan hanya memahami morfem, kata, frasa, dan kalimat saja, tanpa mengetahui bunyi bahasa. Berikut akan disajikan pembahasan tentang suara yang meliputi vokal, konsonan, suprasegmental, dan fonemik dalam bahasa Arab.

A. Vokal

Secara diakronis, Matthews (1997:399) menyebutkan bahwa konsep vokal (vowel) dulunya berasal dari Yunani dan Latin. Ketika itu, vokal dipahami sebagai “minimal unit of speech that could be produced on its own and could, on its own, form syllable.” Namun kini menurut Matthews (1997:399), secara lebih umum dan lebih bernilai, vokal didefinisikan sebagai, “one that is produced with open approximation and that characteristically forms the nucleus of a syllable.”

Definisi yang ditawarkan Matthews ini mungkin agak sulit dipahami. Definisi yang lebih mudah dapat kita temui dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli bahasa yang lain, seperti Moeliono dll. (1993:40), Verhaar (1999:33), dan Bisyr (1990:74). Meski redaksinya berbeda, pada intinya para ahli bahasa ini mendefinisikan vokal sebagai suatu bunyi bahasa yang tidak mengalami rintangan pada arus udaranya, tanpa ada penyempitan atau penutupan apa pun pada tempat pengartikulasiannya.

Bunyi bahasa pada vokal ini kualitasnya bergantung pada tiga faktor berikut: (1) tinggi-rendahnya posisi lidah; (2) bagian lidah yang dinaikkan, dan (3) bentuk bibir pada pembentukan vokal itu. Pada saat vokal diucapkan, lidah dapat bergerak naik atau turun bersama rahang. Bagian lidah ini dapat bergerak naik atau turun pada bagian depan, tengah, atau belakang. Selain tinggi-rendah dan depan-belakang lidah, kualitas vokal juga dipengaruhi oleh bentuk bibir. Berikut akan dijelaskan vokal dalam bahasa Arab. Sebelumnya, terlebih dulu akan disajikan tabel vokal dalam bahasa Arab:

Tabel 1 Vokal dalam Bahasa Arab



Depan

Tengah

Belakang

Tinggi

i



u

Sedang







Rendah

a





Bahasa Arab hanya memiliki tiga bunyi vokal: [i] [u] [a]. Posisi lidah pada saat mengucapkan vokal i adalah pada posisi depan yang dibuat di bagian tertinggi lidah di rongga mulut. Oleh karena itu, vokal i dinamakan vokal depan tinggi takbulat. Contohnya: ruwiya. Vokal u dibuat dengan bagian tertinggi dari lidah pada posisi belakang di rongga mulut. Oleh karena itu, vokal u dinamakan vokal belakang tinggi takbulat. Contohnya: liwââ€TM. Vokal a dibuat dengan bagian terendah dari lidah pada posisi sedang di rongga mulut. Oleh karena itu, vokal a dinamakan depan rendah takbulat.

Dalam bahasa Arab juga terdapat dua vokal yang berbeda yang dihasilakn berturut-turut dalam waktu cukup pendek yang keduanya merupakan suatu kata yang sama. Inilah yang dalam linguistik dikenal dengan diftong. Matthews (1997:99) mendefinisikannya sebagai “a vowel whose quality changes percepbility in one direction within a single syllable.” Contoh diftong dalam bahasa Arab: au, ai.

B. Konsonan

Bila bunyi bahasa pada vokal dihasilkan dengan membebaskan arus udara dan melibatkan pita suara, maka bunyi bahasa pada konsonan dihasilkan dengan melakukan berbagai hambatan dan penyempitan pada aliran udara serta mempergunakan artikulasi pada salah satu bagian alat-alat bicara. Setidaknya kesimpulan inilah yang bisa diambil dari beberapa definisi para ahli linguistik, seperti Verhaar (1999:33), Moeliono dll. (1993:40), Robins (1992:114), Kentjono (1997:26), Fromkin dan Rodman (1998:223), Nasution (2002:32). Namun, secara diakronis, Matthews (1997:69) mengemukakan hal yang berbeda. Guru Besar Linguistik pada Cambridge University ini menuliskan bahwa konsonan, “originally a sound or letter that had to be a accompanied by a vowel: hence the term (Latin consonans ‘sounding withâ€TM). Now generally of phonological units which form parts of a syllable other than its nucleus, or whose primary role, at least, is to do so.”

Ada tiga faktor yang terlibat pada pelafalan konsonan: keadaan pita suara, penyentuhan atau pendekatan alat ucap, dan cara alat ucap itu bersentuhan atau berdekatan. Alat ucap yang bersentuhan atau yang didekatkan untuk membentuk bunyi bahasa disebut artikulator. Berikut akan dijelaskan proses terjadinya bunyi konsonan.

Tempat Artikulasi

Salah seorang pakar fonetik Mesir kontemporer, Bisyr (1990:229-230), membagi places of articulation bunyi bahasa dalam bahasa Arab menjadi beberapa bagian berikut:

Bilabial: [w] [b] [m] Pada bagian ini, bibir atas menjadi artikulator pasif dan bibir bawah menjadi artikulator aktif. Dalam konsep Fromkin dan Rodman (1998:223), bilabials terjadi “by bringing both lips together.” Contohnya [w] pada wajaha, [b] pada bajaha, dan [m] pada mazada.

Labiodental: [f] Pada bagian ini, gigi atas menjadi artikulator pasif dan bibir bawah menjadi artikulator aktif. Dalam konsep Fromkin dan Rodman (1998:224), labiodentals terjadi “by touching the bottom lip to the upper teeth.” Contohnya [f] pada fatara.

Interdental: [θ] [ð] [z] Pada bagian ini, gigi atas menjadi artikulator pasif dan bagian pinggir lidah menjadi artikulator aktif. Dalam konsep Fromkin dan Rodman (1998:224), interdentals terjadi dengan “one inserts the tip of the tongue between the upper and lower teeth.” Contohnya [θ] pada tawiya [θwiya], [ð] pada dalika [ðlika], dan [z] pada zalla.

Laminoalveolar: [t/ت] [t] [d] [d] [l] [n] Pada bagian ini, gusi menjadi artikulator pasif dan bagian depan lidah menjadi artikulator aktif. Contohnya [t] pada taniya, [t] pada tâla, [d] pada dalla, [d] pada dalla, [l] pada laisa, dan [n] pada nâma.

Apicoalveolar: [r] [s] [s] [z] Pada bagian ini, gusi menjadi menjadi artikulator pasif dan bagian pinggir lidah menjadi artikulator aktif. Contohnya [r] pada ramâ, [s] pada salima, [s] pada sadaqa, dan [z] zaniya.

Palatal: [Å¡] [j] [y] Pada bagian ini, langit-langit mulut menjadi artikulator pasif dan bagian tengah lidah menjadi artikulator aktif. Contohnya [Å¡] pada Å¡arafa dan [j] pada jamula serta [y] pada yabusa.

Velar: [k] [g] [k] Pada bagian ini, bagian belakang langit-langit mulut yang lunak menjadi artikulator pasif dan bagian belakang lidah menjadi artikulator aktif. Contohnya [k] pada kamula, [g] pada ginan, dan [k] kâfa.

Uvular: [q] Pada bagian ini, bagian langit-langit mulut yang menonjol ke bawah menjadi satu-satunya artikulator sedang bagian belakang lidah tidak sampai pada batas bersentuhan dengan bagian langit-langit mulut itu. Contohnya [q] pada qâma.

Glottal: [h] [h] [?] [?] Pada bagian ini, bagian tenggorokan menjadi satu-satunya artikulator untuk menghasilkan suara. Contohnya, [h] pada halumma, [h] himayah, [?] ?mânah, dan [?] ?in.


Tabel 2 Konsonan dalam Bahasa Arab



Bilabial

Labiodental

Interdental

Laminoalveolar

Apikoalveolar

Palatal

Velar

Uvular

glotal

Stop

Takbersuara Bersuara

b





t & td & d





k

q

?

Nasal

m





n











Frikatif

Takbersuara Bersuara



f


θ

ð



s & sz


Å¡

z

kg



?h & h

Affrikat

Takbersuara Bersuara











j







Trill










r









Lateral









l









Cara Artikulasi

Berdasar cara artikulasinya, ada beberapa macam bunyi bahasa. Berikut akan disajikan beberapa macam bunyi bahasa dalam bahasa Arab berdasar penelitian Bisyr (1990:433):

aerah artikulasi Cara artikulasi

Bilabial

Labiodental

Dental/Alveolar

Palatal

Velar

Glotal

Hambat

TakbersuaraBersuara

pb



td



kg



Nasal

m



n

ň

Å‹



Frikatif

TakbersuaraBersuara



f

sz

Å¡

X

h

Afrikat

TakbersuaraBersuara







cj





Getar






r







Lateral






l







Semivokal

w







Y



Stop: [b] [t] [t] [d] [d] [q] [k] [?] Pada bunyi bahasa ini, udara dari paru-paru dihambat secara total sehingga tidak ada udara lagi yang dapat berlalu. Bunyi yang dihasilkan dengan cara artikulasi semacam ini dinamakan bunyi stop.

Nasal: [n] [m] Pada bunyi bahasa ini, udara keluar tidak melalui melalui mulut karena bibirnya dikatupkan, tapi malah melewati hidung. Bunyi yang dihasilkan dengan cara artikulasi ini dinamakan bunyi nasal.

Frikatif: [f] [θ] [ð] [z] [s] [s] [š] [g] [k] [h] [h] [?] [z] Pada bunyi bahasa ini, arus udara melalui saluran sempit lalu akan terdengar suara desis. Bunyi yang dihasilkan dengan cara artikulasi ini denamakan bunyi frikatif.

Affrikat: [j] Pada bunyi bahasa ini, menurut Fromkin dan Rodman (1998:231) dihasilkan dengan “a stop closure followed immediately by a slow release of the closure characteristic of a fricative.” Bunyi yang dihasikan dengan cara artikulasi ini dinamakan affrikat.

Trill: [r] Pada bunyi bahasa ini, ujung lidah selalu menyentuh tempat yang sama berulang-ulang. Bunyi ini dapat dihasilkan pada [r/ر] yang diucapkan secara berulang-ulang.

Lateral: [l] Pada bunyi ini, ujung lidah bersentuhan dengan gusi dan udara keluar melalui samping lidah. Bunyi yang dihasilkan dengan cara artikulasi ini dinamakan bunyi lateral.

Posisi Pita Suara

Marilah kita perhatikan penjelasan Fromkin dan Rodman (1998:225) tentang voiceless sounds (takbersuara), “if the vocal cord are apart when the airstream is pushed from the lungs, the air is not obstructed at the glottid and it passes freely into supraglotal cavities (the parts of the vocal tract above the glottis.” Singkatnya, jika pita-pita suara berjauhan, sehingga glotis menjadi terbuka cukup lebar, udara bisa keluar dengan bebas. Dalam bahasa Arab, berdasar hasil penelitian Bisry (1990:87), bunyi takbersuara terdiri dari 12 suara:[f] [θ] [t] [t] [s] [s] [š] [k] [q] [k] [h] [h].

Tentang voiced sounds (bersuara), Fromkin dan Rodman (1998:225) menuliskan, “if the vocal cords are together, the airstream forces its way through and causes them to vibrate.” Dengan ungkapan yang lebih sederhana, jika pita-pita suara berdekatan, sehingga glotis menjadi sempit, udara yang hendak keluar menjadi agak terhambat. Akibatnya, udara yang terpaksa melewati celah yang sempit itu menggetarkan pita-pita suara. Getaran ini menimbulkan bunyi yang disebut suara. Dalam bahasa Arab,berdasar hasil penelitian Bisry (1990:56), bunyi bersuara terdiri dari 15 suara: [w] [b] [m] [d] [d] [n] [l] [z] [r] [j] [y] [ð] [z] [?] [g].

C. Suprasegmental

Rangkaian-rangkaian bunyi bahasa yang kita ucapkan tidak hanya terdiri dari unsur segmental--vokal dan konsonanâ€"yang terdiri dari gerakan-gerakan alat ucap, tetapi juga unsur suprasegmental yang berupa pangjang-pendek (length), tekanan (stressing), dan nada (pitch). Menurut Fromkin dan Rodman (1998:240), untuk memanjangkan vowel dapat dilakukan dengan “by prolonging it.” Untuk konsonan dapat dilakukan dengan “by maintaining the closure or abstuction for a longer period of time.” Untuk memproduksi nada (pitch), dua pakar linguistik modern ini mengatakan, “The pitch produced depends on how fast the vocal cords vibrate; the faster they vibrate; the higher the pitsh. Tentang stressing, Fromkin dan Rodman (1998:240) mengatakan, “In many languages, some syllables or vowels are produced more loudly with a simultaneous change in pitch (usually higher) and longer duration than other vowels in the word or sentence.”

Panjang-pendek suatu bunyi (length) bahasa menunjukkan lama waktu dipertahankannya posisi alat ucap. Tentu saja panjang bunyi bahasa berbeda-beda. Dalam tulisan fonetik, tanda seperti : dan :: (length) atau lambang rangkap (doubled) dipakai sebagai pertanda panjang. Dalam bahasa Arab, banyak sekali ditemui kategori ini. Sebagai contoh, kata jami:l dan za::li:n untuk yang menandai panajangnya bacaan, dan kata radda dan madda untuk yang menandai sebagai lambang rangkap. Keras lemahnya tekanan (stressing) ditandai oleh gerak alat-alat ucap yang lebih bertenaga dan menggunakan otot-otot yang lebih tegang dalam menghasilkan bunyi. Dalam tulisan fonetik dikenal beberapa tanda yang menunjukkan tekanan keras, tekanan sekunder, dan tekanan tersier. Tanda tingkat tekanan ini bergantung kepada ketelitian pemerian. Nada (pitch) berciri frekuensi getaran yang ditimbulkan pita suara. Makin bertambah tinggi frekuenis makin tinggi nadanya. Dalam tulisan fonetik, nada lazim ditandai dengan angka yang jumlahnya juga begrantung pada keperluan pemerian. Angka 1, 2, 3, dan 4 berturut-turut menunjukkan nada rendah, normal, tinggi, dan amt tinggi.

D. Fonemik

Bila fonetik mengkaji bunyi bahasa berdasar aspek fisiknya saja, maka fonemik mengkaji bunyi bahasa berdasar fungsinya sebagai pembeda makna dan terkait dengan bahasa tertentu. Oleh karena itu, dalam fonetik dapat diketahui bunyi bahasa yang artikulatorisnya besar dan bunyi bahsa yang artikulatorisnya kecil. Dalam fonemik yang diperhatikan perbedaan yang fungsional, yang berguna untuk membedakan makna. Perbedaan ini berbeda-beda antara satu bahasa dengan bahasa yang lain.

Dalam tiap bahasa, orang secara tidak sadar mengelompokkan berbagai bunyi yang diucapkannya ke dalam satuan-satuan fungsional terkecil yang disebut fonem. Pembahasan tentang fonem, penggolongan fonem, dan distribusi fonem di antara pembahasan yang dipelajari dalam fonemik. Singkatnya, fonem adalah abstraksi dari bunyi-bunyi bahasa. Meski berbeda antara fonem dan bunyi bahasa, fonem diberi nama sesuai dengan nama salah satu bunyi bahasa yang merealisasikannya. Lambang yang digunaknnya pun sama dengan yang digunakan untuk melambangkan bunyi bahaa. Bedanya, lambang fonem diletakkan di antara dua garis miring, sedangkan lambang bunyi diletakkan dalam tanda kutung siku.

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi suatu fonem disebut alofon. Fonem /i/ dalam bahasa Arab, antara lain mempunyai alofon-alofon [i] (dalam rizâ), [i:] (dalam jâmi), dan [I] (dalam jamîl). Alofon-alofon sebuah sebuah fonem dapat juga menunjukkan ciri hubungan yang disebut bervariasi bebas. Alofon-alofon demikian dapat dipertukarkan di tempat yang sama. Hal ini dapat terjadi terutama karena alat ucap manusia pada dasarnya tidak mampumelafalkan dua bunyi yang benar-benr sama berturut-turut. Ciri alofon-alofon sebuah fonem adalah, pertama, mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, mempunyaii banyak kesamaan dalam pengucapannya; kedua, berdistribusi komplementer atau bervariasi bebas.

Untuk memperlihatkan perbedaan fonemis antara yang satu dengan yang lain dipakai cara memperbandingkan contoh-contoh ujaran dengan perbedaan minimal dalam bunyi Dua ujaran yang berbeda maknanya dan berbeda minimal dalam bunyinya seperti itu disebut pasangan minimal. Dalam bahasa Arab, misalnya, kita bisa memperbandingkan antara kata jali:l dan kata jami:l dapat diperlihatkan bahwa kedua contoh itu hanya dibedakan oleh [l] dan [m]. Perbedaan ini merupakan perbedaan yang penting bagi pemakai bahasa Arab karena perbedaan ini bersifat fonemis. Kedau bunyi ini merupakan realisasi dua fonem yang berbeda, yakni /l/ dan /m/.


Oleh :
Moch. Syarif Hidayatullah, M.Hum
(Dosen Prodi Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Al Azhar Indonesia)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Wacana Bhs, sastra & Budaya Arab" Lainnya