headerphoto

Islam bukan Muhammadanisme

Kamis, 23 April 2009 11:58:13 - oleh : admin

MUQADDIMAH

Masalah penting yang pertama kali harus diperhatikan dalam membahas agama1 Islam ialah, bahwa nama agama
ini bukanlah Muhammadanisme seperti anggapan orang Barat pada umumnya, melainkan Islam. Muhammad adalah
nama Nabi yang kepadanya agama ini diwahyukan. Para penulis Barat mengambil nama beliau sebagai nama agama ini
yaitu Muhammadanisme, berdasarkan analogi nama-nama agama seperti Christianity, Buddhisme, Confu-sianisme dan
sebagainya. Tetapi nama Muhammadanisme yang diberikan oleh para penulis Barat ini tak dikenal sama sekali oleh
para penganut agama Islam, dan tak termaktub dalam Qur'an Suci maupun dalam Hadits Nabi.
Adapun nama yang diuraikan seterang-terangnya dalam Qur'an Suci ialah Islam2 dan orang yang menganut
agama itu dinamakan Muslim.3 Jadi, agama Islam tak sekali-kali dinamakan menurut nama pendirinya, bahkan
pendirinya sendiri disebut Muslim,4 Sebenarnya, tiap-tiap Nabi itu menurut Qur'an Suci disebut Muslim,5 dengan
demikian terang sekali bahwa agama Islam adalah agama yang sebenarnya bagi seluruh umat manusia. Para Nabi
adalah yang mengajarkan agama Islam di kalangan berbagai bangsa dan berbagai zaman, dan Nabi Muhammad adalah
Nabi yang terakhir dan paling sempurna.
Arti kata Islam
Di antara agama-agama besar di dunia, Islam memiliki keisti-mewaan karena mempunyai satu nama yang
penting sekali artinya, satu nama yang menunjukkan arti yang sebenarnya.
Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian6 dan orang Muslim ialah orang yang damai dengan Allah
dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah artinya, berserah diri sepe-nuhnya kepada kehendak-Nya, dan damai
dengan manusia bukan saja berarti menyingkiri berbuat jahat atau sewenang-wenang kepada
sesamanya melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya.
Dua pengertian ini dinyatakan dalam Qur'an Suci sebagai inti agama Islam yang sebenarnya. Qur'an berfirman:
"Ya, barangsiapa berserah diri sepenuhnya kepada Allah (aslama), dan berbuat baik kepada orang lain, ia memperoleh
pahala dari Tuhannya, dan tiada ketakutan akan menimpa mereka, dan tiada pula mereka akan susah" (2:112). Jadi,
sudah dari permulaan sekali, Islam adalah agama perdamaian, dan dua ajaran pokonya yaitu Keesaan Allah dan
kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya.
Islam bukan saja dikatakan sebagai agama sekalian Nabi sebagaimana tersebut di atas, melainkan pula sebagai
sesuatu yang secara tak disadari tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah yang kita saksikan pada alam
semesta, ini pun tersirat dalam kata aslama. Arti yang luas ini tetap dipertahankan dalam penggunaan kata itu dalam
hukum syara', karena menurut hukum syara', Islam mengandung arti dua macam, yakni:
(1) Mengucap Kalimah Syahadat, yaitu menyatakan bahwa tak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad itu
Utusan Allah.
(2) Berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, yang ini hanya dapat dicapai melalui penyempurnaan rohani.7
Jadi, orang yang baru saja masuk Islam, ia disebut Muslim, sama halnya seperti orang yang berserah diri sepenuhnya
kepada kehendak Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.
1. Kata agama, bahasa Arabnya din atau millah. Kata din makna aslinya ketaatan atau pembalasan. Adapun millah makna aslinya perintah.
Millah terutama sekali bertalian dengan Nabi, yang kepadanya agama itu diwahyukan, sedangkan din bertalian dengan orang yang menganut
agama itu (R). Agama juga disebut madzhab, tetapi nama ini tak dipakai dalam Qur'an Suci. Kata madzhab berasal dari kata dzahaba, artinya
jalan yang dianut orang, baik dalam hal ajaran maupun praktek keagamaan, atau berarti pula pendapat tentang agama (LL). Menurut sebagian
ulama, perbedaan antara tiga nama tersebut ialah demikian: Din dihubungkan dengan Allah Yang mewahyukan agama, millah dihubungkan
dengan Nabi yang kepadanya agama itu diwahyukan, Madzhab dihubungkan dengan mujtahid yang menjelaskan agama itu. Akan tetapi dalam
bahasa Urdu atau Persi, kata madzhab mempunyai arti yang lebih luas lagi.
2. "Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan Aku lengkap-kan nikmatKu kepada kamu, dan Aku pilihkan untuk kamu
Islam sebagai agama" (5:3). "Sesungguhnya agama yang benar menurut Allah ialah Islam" (3:18).
3. Sebelumnya dan pula di sini, Ia menamakan kamu Muslim" (22:78), kata sebelumnya bertalian dengan ramalan, sedang kata di sini
bertalian dengan Qur'an Suci.
4. "Aku adalah yang pertama di antara kaum Muslimin" (6:164).
5. "Dan Ibrahim memberi wasiyat dengan itu kepada para puteranya, dan (pula) Ya'qub: Wahai para puteraku, sesungguhnya Allah telah
memilih agama ini untuk kamu, maka janganlah kamu mati, kecuali kamu Muslim" (2:132). "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, dan
di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Dengan ini para Nabi yang berserah diri sepenuhnya (aslamu), mengadili perkara orang-orang
Yahudi" (5:44).
6. Islam artinya masuk dalam salm; kata salm dan silm dua-duanya berarti damai (R). Dua perkataan ini digunakan oleh Qur'an Suci dalam
arti damai, lihatlah 2:208 dan 8:61.
7. "Menurut hukum syara', Islam ada dua macam: (1) Mengucap Kalimah Syahadat dengan lisan ... baik disertai iman (kesadaran) dalam hati
atau tidak ... (2) di atas iman, yaitu mengucap Kalimah Syahadat, disertai dengan iman (kesadaran) dalam hati, dan melaksanakan itu dalam
perbuatan, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam hal apa saja yang Ia jadikan dan Ia putuskan" (R).
4 ISLAMOLOGI
Kedudukan Islam di antara agama-agama di dunia
Islam adalah agama yang terakhir di antara sekalian agama besar dunia, yang semuanya merupakan kekuatan
raksasa yang menggerakkan revolusi dunia, dan mengubah nasib sekalian bangsa. Tetapi Islam bukan saja agama yang
terakhir, melainkan pula agama yang melingkupi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang datang
sebelumnya. Ciri khas agama Islam yang paling menonjol ialah, Islam menyuruh para pemeluknya supaya beriman dan
mem-percayai bahwa sekalian agama besar di dunia yang datang sebelum-nya, diturunkan dan diwahyukan oleh Allah.
Salah satu rukun iman ialah orang harus beriman kepada sekalian Nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw.
Qur'an Suci berfirman:
"Dan orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum
engkau" (2:4).
"Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang
diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishaq dan Ya'qub dan anak cucu, dan apa yang diberikan kepada Musa
dan ‘Isa, dan apa yang diberikan kepada para Nabi dari Tuhan mereka, dan kami tak membeda-bedakan salah satu di
antara mereka" (2:136).
"Utusan beriman kepada apa yang diwahyukan kepadanya dari Tuhannya, dan demikian pula kaum mukmin.
Mereka semua beriman kepada Allah dan Malaikat-Nya dan Kitab-Nya dan para Utusan-Nya. Kami tidak membedabedakan
salah satu di antara para Utusan-Nya" (2:285).
Jadi, orang Islam bukan saja beriman kepada Nabi Muhammad saw melainkan pula beriman kepada semua Nabi.
Menurut ajaran Qur'an Suci yang terang benderang, semua bangsa telah kedatangan Nabi: "Tak ada satu umat,
melainkan seorang juru ingat telah berlalu di kalangan mereka" (35:24). Oleh karena itu, orang Islam ialah orang yang
beriman kepada para Nabi dan Kitab Suci dari semua bangsa. Orang Yahudi hanya percaya kepada para Nabi bangsa
Israel; orang Kristen hanya percaya kepada Yesus Kristus, dan dalam kadar kecil percaya juga kepada para Nabi
bangsa Israel. Orang Buddha hanya percaya kepada Sang Buddha; orang Majusi hanya percaya kepada Zaratustra;
orang Hindu hanya percaya kepada para Nabi yang timbul di India saja; orang Kong Hu Cu hanya percaya kepada
Kong Hu Cu, tetapi orang Islam percaya kepada semua Nabi dan kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir. Oleh
karena itu, Islam adalah agama yang meliputi semuanya yang mencakup segala agama di dunia. Demikian pula Kitab
Sucinya, yaitu al-Qur'an adalah gabungan dari semua Kitab Suci di dunia. Qur'an berfirman: "Lembaran-lembaran
suci yang di dalamnya ber-isi kitab-kitab yang benar" (98:2-3).
Masih ada lagi ciri khas agama Islam yang memberinya kedudukan istimewa di antara sekalian agama. Selain
menjadi agama dunia yang terakhir dan yang meliputi semuanya, Islam adalah pernyataan kehendak Ilahi yang
sempurna. Qur'an berfirman: "Pada hari ini, Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan Aku lengkapkan
nikmatKu kepada kamu, dan Aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama" (5:3). Seperti halnya bentuk-bentuk
kesadaran yang lain, kesadaran beragama bagi manusia sedikit dan berangsur-angsur dari abad ke abad mengalami
kemajuan, demikian pula wahyu tentang Kebenaran Agung yang diturunkan dari langit, juga meng-alami kemajuan,
dan ini mencapai titik kesempurnaan dalam agama Islam.
Kebenaran agung inilah yang diisyaratkan oleh Yesus dengan sabdanya: "Banyak lagi perkara yang Aku hendak
katakan kepada-mu, tetapi sekarang ini tiada kamu dapat menanggung dia. Akan tetapi apabila Ia sudah datang, yaitu
Roh Kebenaran, maka Ia pun akan membawa kamu kepada segala Kebenaran" (Yahya 16:12-13). Jadi tugas agama
Islam yang besar ialah (1) mendatangkan per-damaian di dunia dengan membentuk persaudaraan di antara sekalian
agama di dunia, (2) menghimpun segala kebenaran yang termuat dalam agama yang sudah-sudah; (3) membetulkan
kesalahan-kesala-han agama dan menyaring mana yang benar dan mana yang palsu; (4) mengajarkan kebenaran abadi,
yang sebelumnya tak pernah diajarkan berhubung keadaan bangsa atau umat pada waktu itu masih dalam tahap
permulaan dari tingkat perkembangan mereka; dan yang terakhir memenuhi segala kebutuhan moral dan rohani bagi
umat manusia yang selalu bergerak maju.
Agama diberi arti baru
Dengan datangnya Islam, agama memperoleh arti yang baru. Pertama, agama tak boleh dianggap sebagai
dogma, yang orang harus menerimanya jika ia ingin selamat dari siksaan yang kekal, melainkan agama harus
diperlakukan sebagai ilmu yang didasarkan atas pengalaman universal umat manusia. Bukan hanya bangsa ini dan
bangsa itu saja yang menjadi pilihan Allah dan yang menerima wahyu Ilahi; sebaliknya wahyu itu diakui sebagai faktor
penting untuk evolusi manusia. Oleh sebab itu, wahyu dalam bentuk rendah merupakan pengalaman universal manusia,
sedangkan dalam bentuk yang tinggi, yaitu wahyu nubuwwat (Wahyu Kenabian) ini merupa-kan karunia Allah yang
diberikan kepada sekalian umat di dunia. Selanjutnya mengenai pengertian agama sebagai ilmu, ini di-mantapkan
dengan menyajikan ajaran agama sebagai landasan bagi perbuatan. Tak ada satu pun ajaran agama yang tidak dijadikan
landasan perbuatan bagi perkembangan manusia menuju tingkat kehidupan yang tinggi daln lebih tinggi lagi. Kedua,
ruang-lingkup agama itu tak terbatas mengenai kehidupan akhirat saja. Bahkan agama itu terutama sekali berurusan
dengan kehidupan dunia, agar dengan hidup lurus di dunia, manusia bisa mencapai kesadaran akan adanya kehidupan
yang lebih tinggi.
Itulah sebabnya mengapa Qur'an Suci membahas macam-macam pokok persoalan yang dapat mempengaruhi
kehidupan manusia di dunia. Qur'an Suci tidak saja membahas cara-cara beribadah, membahas bentuk-bentuk
penyembahan kepada Tuhan, membahas bagaimana caranya berhubungan dengan Tuhan, tetapi Qur'an bahkan
terutama sekali membahas masalah-masalah dunia di sekeliling kita, membahas soal hubungan antara sesama manusia,
MUQADDIMAH 5
membahas kehidupan sosial dan politik, aturan perkawinan, talak dan waris, pembagian kekayaan, hubungan antara
buruh dan kapital, administrasi peradilan, organisasi militer, perang dan damai, ke-uangan negara, utang-piutang dan
perjanjian, pelayanan terhadap kepentingan umum dan bahkan terhadap binatang, undang-undang yang mengatur
bantuan terhadap fakir-miskin, janda dan anak yatim, dan seribu satu persoalan lain yang jika ini ditangani dengan
seksama akan memungkinkan orang memperoleh hidup bahagia. Qur'an Suci bukan saja mengatur kemajuan orang
seorang, melainkan pula mengatur kemajuan masyarakat secara keseluruhan, demikian pula kemajuan bangsa, bahkan
pula kemajuan seluruh umat. Qur'an Suci bukan saja memecahkan persoalan yang bertalian dengan antar hubu-ngan
sesama orang, melainkan pula antara suku-suku dan bangsa-bangsa yang umat manusia dipecah-pecah seperti
demikian. Segala aturan dan undang-undang ini dibuat efektif (dibuat mencapai hasil) dengan jalan iman kepada Allah.
Memang benar bahwa Qur'an mempersiapkan manusia untuk hidup di Akhirat, tetapi kehidupan di Akhirat itu hanya
bisa dicapai dengan menyentosakan kehidupan di dunia.
Agama kekuatan untuk mengembangkan akhlak manusia
Pertanyaan yang pada dewasa ini mengganggu pikiran kita ialah, apakah agama itu benar-benar diperlukan oleh
manusia? Jika kita mau meninjau sejenak saja terhadap sejarah peradaban manusia, kita akan tahu, bahwa agama
adalah kekuatan raksasa yang telah mewujudkan perkembangan manusia seperti sekarang ini. Bahwa semua yang baik
dan mulia dalam diri manusia itu diilhami oleh iman kepada Allah, ini adalah kebenaran yang tak dapat dibantah lagi
sekalipun oleh orang atheis (yang tak percaya kepada Tuhan). Seorang Ibrahim, seorang Musa, seorang ‘Isa, seorang
Krishna, seorang Buddha, seorang Muhammad, secara bergiliran dan sesuai derajat masing-masing telah mengubah
sejarah manusia dan mengangkat derajat mereka dari lembah kehinaan menuju puncak ketinggian akhlak yang tak
pernah diimpikan. Hanya melalui ajaran Nabi besar ini atau Nabi besar itu sajalah yang membuat orang mampu
menaklukkan hawa nafsunya dan menempatkan cita-cita luhur di hadapannya dengan pengorbanan tanpa pamrih guna
kepentingan umat manusia. Jika anda mempelajari perasaan luhur yang pada dewasa ini membangkitkan semangat
manusia, anda pasti akan menemukan bahwa perasaan luhur itu berasal dari ajaran dan suri-tauladan dari beberapa
orang suci yang mempunyai iman yang kuat kepada Allah, yang benih iman ini disemaikan oleh mereka ke dalam batin
manusia. Jika perkembangan akhlak dan budipekerti manusia pada tingkat sekarang ini terjadi karena suatu sebab,
maka sebab itu adalah agama. Umat manusia masih harus mempelajari apakah perasaan luhur yang membangkitkan
semangat manusia sekarang ini akan tetap hidup setelah timbulnya satu atau dua generasi yang tak percaya kepada
adanya Tuhan, dan perasaan-perasaan apakah nanti-nya yang akan ditelorkan oleh materialisme? Menurut gelagatnya,
jika yang berkuasa itu materialisme, maka tidak boleh tidak sudah pasti akan mengakibatkan berkuasanya tabiat
mementingkan diri-sendiri, karena, matangnya rencana untuk membagi kekayaan secara merata tidaklah
membangkitkan perasaan luhur yang pada dewasa ini menjadi kebanggaan manusia, dan yang berabad-abad lamanya
dimasukkan oleh agama dalam batin manusia. Jika pada dewasa ini sanksi-sanksi agama ditiadakan, maka rakyat yang
bodoh - dan rakyat jelata memang selamanya tetap bodoh sekalipun dapat sedikit membaca dan menulis - akan
terjerumus kembali ke dalam kebia-daban, sudah tentu sedikit demi sedikit, sedang orang-orang yang menganggap
dirinya lebih tinggi kedudukannya, tak lagi diilhami oleh cita-cita luhur dan mulia, yang ini hanya bisa diperoleh
dengan jalan beriman kepada Allah semata.
Islam sebagai landasan peradaban abadi
Sebenarnya, peradaban yang kita miliki sekarang ini, baik pendapat ini disetujui atau tidak, ini dilandasi oleh
agama. Agamalah yang memungkinkan adanya peradaban yang berkali-kali menyela-matkan umat manusia dari
kehancuran. Tengoklah kembali sejarah peradaban tiap-tiap bangsa, anda pasti akan melihat, manakala peradaban
mulai goyah, maka daya-penggerak keagamaan yang baru pasti sudah siap untuk menyelamatkannya dari bahaya
kehancuran. Bukan saja peradaban yang mempunyai daya-tahan itu harus berdasarkan akhlak, dan akhlak yang tinggi
itu harus dihayati dengan iman kepada Allah, melainkan pula persatuan dan perpautan unsur-unsur kemanusiaan yang
saling berlawanan, yang tanpa persatuan ini, suatu peradaban tak mungkin dapat bertahan satu hari, ini pun terjadi
karena adanya daya-pemersatu dari agama. Memang sering pula orang berkata bahwa agamalah yang menyebabkan
terjadinya banyak pertentangan dan pertumpahan darah, tetapi jika orang mau menoleh sejenak melihat sejarah agama,
orang akan mengerti bahwa tuduhan itu timbul karena salah mengerti. Setiap agama pasti mengajarkan cinta-kasih,
kerukunan, iba-hati, baik hati terhadap sesama manusia, dan tiap-tiap bangsa tahu akan ajaran-ajaran yang penting dan
suci ini melalui jiwa pengabdian tanpa pamrih yang dihayati oleh iman kepada Allah. Jika masih ada tabi'at
mementing-kan diri-sendiri dan permusuhan maupun pertumpahan darah, maka hal ini terjadi, sekalipun ada agama,
bukan terjadi karena ajaran agama yang mengajarkan cinta-kasih, hal itu terjadi karena tabi'at manusia amat condong
kepada mementingkan diri-sendiri dan permusuhan serta pertumpahan darah; dan terjadinya itu hanya menunjukkan
bahwa manusia masih tetap memerlukan kesadaran yang lebih besar lagi terhadap ajaran agama, atau lebih tegas lagi,
iman sejati kepada Allah masih sangat diperlukan oleh manusia. Bahwa manusia kadang-kadang melakukan perbuatan
hina dan nista, bukan berarti perasaan luhur tak ada gunanya lagi, tetapi hanya menunjukkan bahwa dikembangkannya
perasaan luhur itu menjadi keharusan mutlak.
Islam kekuatan pemersatu yang paling besar di dunia
Jika persatuan umat manusia merupakan landasan pokok bagi peradaban, maka tak sangsi lagi bahwa Islam
merupakan kekuatan yang paling besar untuk memberadabkan manusia yang pernah atau paling mungkin dikenal oleh
dunia. Yang kami maksud peradaban di sini bukanlah peradaban suatu bangsa atau suatu negara, melainkan peradaban
seluruh umat manusia. Tigabelas abad yang lampau, Islamlah yang telah menyelamatkan peradaban dari jurang kehan6
ISLAMOLOGI
curan; Islamlah yang memberi pertolongan kepada peradaban yang runtuh pondasinya, dan menggantinya dengan
pondasi baru, lalu
membangun gedung peradaban yang baru samasekali.
Cita-cita baru tentang kesatuan seluruh umat manusia, bukan kesatuan bangsa ini atau bangsa itu, ini
diperkenalkan di dunia oleh agama Islam, suatu cita-cita yang begitu ampuh hingga dapat mem-persatukan bangsabangsa
yang sejak dahulu kala saling bertempur dan saling membenci. Ini bukan saja terjadi di tanah Arab yang
penduduknya suka saling bertempur, sekalipun sama-sama tinggal di dalam satu jazirah, sehingga seorang pengarang
Inggris menamakan itu "mukjizat" besar,8 suatu mukjizat yang begitu hebat hingga segala sesuatu tak ada artinya jika
dibandingkan dengan itu.
Islam bukan saja memperkokoh persatuan di antara kabilah-kabilah yang sedang bertempur, melainkan pula
menggalang per-saudaraan di antara bangsa-bangsa di dunia, bahkan mempersatukan orang-orang yang tak mempunyai
persamaan apa pun selain persamaan sebagai manusia. Islam menghilangkan perbedaan warna kulit, suku bangsa,
bahasa dan latar batas-batas geografis, bahkan Islam menghilangkan pula perbedaan kebudayaan. Islam mempersatukan
manusia yang satu dengan manusia yang lain begitu rupa, hingga denyut jantung orang-orang di ujung Timur,
klop dengan denyut jantung orang-orang yang ada di ujung Barat. Sungguh benar bahwa Islam bukan saja telah
membuktikan sebagai kekuatan pemersatu yang paling besar, melainkan Islam adalah satu-satunya kekuatan yang telah
mempersatukan seluruh umat manusia, karena agama-agama lain hanya mampu mempersatukan unsur-unsur dalam
satu bangsa saja, tetapi Islam benar-benar telah mempersatukan berbagai bangsa dan mempersatukan segala unsur
kemanusiaan yang saling bermusuhan dan saling bertentangan. Alangkah besarnya kekuatan Islam dalam
mengembalikan peradaban manusia yang telah hilang, sehingga belum lama berselang seorang penulis menyatakan
sungguh-sungguh sebagai berikut:
"Pada abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kehancuran. Kebudayaan kuno yang
menggerakkan perasaan dan yang memungkinkan adanya peradaban, karena memang kebudayaan itulah yang
membangkitkan perasaan bersatu dan perasaan hormat kepada Raja, ini telah runtuh dan manusia tak dapat
menemukan sesuatu yang memadai sebagai penggantinya ... Rupa-rupanya peradaban besar yang pembangunannya
memakan waktu empatribu tahun berada di tepi jurang kehancuran, dan rupa-rupanya manusia akan kembali ke dalam
keadaan biadab di mana tiap-tiap suku dan kabilah saling bertempur dan tak mengenal hukum dan tata-tertib ... Hukum
adat kuno tak mempunyai kekuatan lagi... Hukum pidana baru yang diciptakan oleh agama Nasrani tak mendatangkan
persatuan dan ketertiban, bahkan malah mendatangkan perpecahan dan pertengkaran ... Peradaban yang
perumpamaannya bagaikan pohon raksasa yang daunnya rindang menjangkau seluruh dunia ... kini terhuyung-huyung
karena lapuk hingga batang-intinya ... Adakah kebudayaan yang dapat membangkitkan perasaan untuk sekali lagi
mempersatukan umat manusia dan dapat menyelamatkan peradaban?9
Lalu tatkala membicarakan tanah Arab, penulis kenamaan itu berkata: "Di kalangan bangsa Arab inilah lahir
seorang laki-laki yang dapat mempersatukan seluruh dunia yang dikenal pada waktu itu Timur dan Selatan".10
Islam kekuatan rohani terbesar di dunia
Jadi, Islamlah yang meletakkan dasar persatuan bagi segenap umat manusia yang tak pernah diimpikan oleh
pembaharu atau agama lain manapun. Islamlah yang meletakkan persaudaraan umat manusia yang tak mengenal
perbedaan warna kulit, suku bangsa, negara, bahasa maupun derajat. Islamlah yang meletakkan dasar persatuan umat
manusia yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Islam bukan saja mengakui persamaan hak sipil dan hak
politik manusia, melainkan mengakui pula persamaan hak dalam bidang rohani. Ajaran pokok agama Islam ialah
"Manusia adalah satu umat" (2:213). Oleh sebab itu Islam mengakui bahwa tiap-tiap bangsa telah menerima anugrah
rohani berupa wahyu. Bahkan hasil yang telah dicapai oleh Islam bukanlah hanya tegaknya persaudaraan umat manusia
saja. Hasil yang tak kalah besarnya ialah, Islam telah membawa perobahan yang tak ada taranya di dunia, karena
agama Islam merupakan kekuatan rohani yang belum pernah ada bandingan-nya dalam sejarah manusia. Perubahan
dunia yang amat mengagum-kan telah dilaksanakan oleh Islam dalam jangka waktu yang amat pendek. Islam telah
menyapu bersih kepercayaan tahayul yang paling keji, kebodohan yang paling bebal, perbuatan mesum yang paling
kotor, kebiasaan jahat yang sudah berabad-abad lamanya, yakni dalam jangka waktu kurang dari seperampat abad.
Kemenangan rohani Islam yang tak ada taranya dalam sejarah dunia ini merupakan kenyataan yang tak dapat disangkal
lagi, dan perobahan rohani yang tak ada taranya inilah yang menyebabkan Nabi Suci Muhammad diakui sebagai Nabi
"yang paling sukses di antara semua Nabi dan semua pemimpin agama" (Encyclopaedia Britanica, artikel Koran).
Islam memecahkan masalah dunia yang besar-besar
Islam menjadi pusat perhatian kaum ahli pikir, karena Islam bukan saja merupakan kekuatan rohani terbesar dan
yang member-adabkan manusia di dunia, melainkan pula memecahkan banyak persoalan yang rumit-rumit yang pada
dewasa ini sulit dihadapi oleh manusia. Materialisme yang pada zaman modern ini menjadi cita-cita manusia, tak
pernah mendatangkan perdamaian dan rasa saling percaya di antara bangsa di dunia. Usaha kaum Nasrani untuk
menghilangkan perbedaan warna kulit dan suku bangsa, mengalami kegagalan. Hanya Islam sajalah satu-satunya yang
berhasil meng-hilangkan perbedaan-perbedaan tersebut, dan melalui Islam sajalah masalah dunia modern yang besarbesar
dapat dipecahkan. Islam adalah agama internasional pertama dan paling utama dan hanya di bawah cita-cita luhur
8. Suatu bangsa yang berpecah-belah (seperti bangsa Arab) sukar sekali diper-temukan, sampai tiba-tiba terjadilah sesuatu yang luar biasa.
Seorang yang dengan kepribadiannya dan pengakuannya mendapat pimpinan dari Tuhan, bangkit dan melaksanakan sesuatu yang mustahil, yaitu
mempersatukan golongan yang saling bertempur. (The Ins and Outs of Mesopotamia, hal.99)
9. J.H.Denison, Emotion as the Basis of Civilization, hal. 265-268).
10. Idem hal. 269.
MUQADDIMAH 7
internasional - yakni cita-cita persamaan semua bangsa dan kesatuan umat manusia,- maka nasionalisme sempit yang
menyebabkan kacaunya dunia zaman dahulu dan zaman sekarang dapat disapu bersih. Bahkan dalam lingkungan suatu
bangsa ataupun suatu negara, tak mungkin ada perdamaian selama dua problem besar, yaitu problim kekayaan dan
problim seksual, belum dapat dipecahkan.
Mengenai masalah kekayaan, Eropa telah bergerak ke arah dua tepi ujung, yaitu kapitalisme dan bolsyewisme.
Yang satu cenderung untuk memusatkan kekayaan di kalangan kaum kapitalis besar, dan yang lainnya cenderung
untuk mebagi rata semua kekayaan dengan menyamaratakan orang yang malas dengan orang yang rajin bekerja. Islam
menyajikan pemecahan yang tepat dengan memberi jaminan kepada para pekerja akan upah pekerjaannya, yang besar
kecilnya disesuaikan dengan prestasi kerjanya; dan Islam menetapkan pula bagian kaum miskin yang diambil dari harta
kaum kaya. Jadi di satu pihak, hak memiliki kekayaan tetap dijamin sepenuhnya, tetapi di lain pihak, Islam membuat
aturan untuk menyamaratakan keadaan dengan mengambil sebagian kekayaan kaum kaya untuk dibagikan kepada
kaum miskin, sesuai peraturan zakat; demikian pula membagikan harta orang yang meninggal dunia kepada ahli waris
dengan pembagian yang sama besar kecilnya. Dalam bagian terakhir buku Wither Islam, H.A.R. Gibb menulis sebagai
berikut:
"Di dunia Barat, Islam tetap mempertahankan keseimbangan antara pertentangan yang kelewat batas. Islam
menentang nasional-isme ala Eropa yang anarkis, dan menentang pula organisasi komunis Rusia; namun Islam tak mati
karena gangguan kehidupan ekonomi yang menjadi ciri khusus Eropa dan Rusia zaman sekarang. Ajaran etika sosial
Islam dirumuskan dengan indah oleh Professor Masignon sebagai berikut: "Islam amatlah berjasa dalam
mengemukakan pendapat tentang persamaah kewajiban agar tiap-tiap penduduk menyumbangkan sepersepuluh bagian
kepada kas negara; Islam menentang perdagangan uang yang tak terbatas, menentang pula bank kapital, pinjaman
pemerintah, menarik pajak tak langsung ter-hadap barang-barang yang amat diperlukan, tetapi Islam membenar-kan
hak-hak ayah dan suami, hak milik dan modal perdagangan. Dalam hal ini Islam sekali lagi memberi jalan tengah
antara ajaran kapitalisme borjuis dan komunisme Bolsyewis" (Wither Islam, hal. 378-379).
Demikian pula mengenai pemecahan masalah seks, Islam satu-satunya yang dapat menjamin perdamaian
terhadap keluarga. Islam tak mengenal cinta-bebas (free-love) yang akibatnya bisa melepaskan segala ikatan hubungan
sosial; dan Islam tak mengenal pula ikatan suami-isteri yang tak dapat diputuskan bila keadaan kehidupan rumah
tangga menjadi neraka. Dengan dipecahkannya seribu satu persoalan yang pada dewasa ini amat mengganggu pikiran
manusia, Islam benar-benar mendatangkan kebahagiaan sejati, selaras dengan nama agama itu sendiri.
Salah paham yang mendasari gerakan anti agama
Gerakan anti agama yang sudah berurat berakar di Rusia, ini disebabkan adanya salah pengertian tentang hakikat
agama Islam. Adapun keberatan mereka terhadap agama yang terpokok ada tiga:11
1. Agama dianggap membantu terpeliharanya sistem sosial seperti sekarang ini yang menelorkan kapitalisme, yang
akibatnya meng-hancurkan aspirasi kaum melarat.
2. Agama mengajarkan orang supaya tunduk kepada kepercayaan tahayul, dengan demikian merintangi majunya ilmu
pengetahuan.
3. Agama mengajarkan orang supaya mencukupi kebutuhan hidup-nya dengan jalan berdo'a, bukan dengan bekerja
keras, dengan demikian agama membuat orang menjadi malas.
Sepanjang mengenai agama Islam, semua tuduhan itu sangat bertentangan dengan kenyataan. Islam datang
sebagai kawan kaum miskin dan kaum melarat. Sebenarnya, Islam telah menjunjung derajat kaum melarat yang ini tak
ada taranya dalam sejarah manusia. Islam menjunjung derajat manusia dari tingkat sosial yang paling rendah sampai
kepada tingkat kehidupan yang paling tinggi. Islam bukan saja membuat budak-belian menjadi seorang pemimpin di
lapangan keintelektualan, melainkan pula bisa membuat mereka menjadi raja. Sistem sosial Islam adalah persamaan
hak, yang ini tak terlintas dalam pikiran bangsa-bangsa lain maupun dari golongan manapun. Salah satu ajaran pokok
yang diajarkan oleh Islam ialah, kaum miskin mempunyai hak atas harta orang kaya, suatu hak yang benar-benar
dilaksanakan oleh Pemerintahan Islam dengan memu-ngut seperempatpuluh bagian dari harta milik orang kaya untuk
dibagikan kepada kaum misikin.
Adapun mengenai tuduhan yang nomor dua, yaitu agama merintangi kemajuan ilmu pengetahuan, ini sepanjang
mengenai agama Islam, juga tidak benar. Islam mengobarkan semangat belajar di suatu negeri, yaitu Arab, yang belum
pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan sebelumnya, bahkan negeri itu pernah tenggelam ke dalam kepercayaan
tahayul. Bahkan sejak zaman Khalifah ‘Umar, Pemerintahan Islam menangani pendidikan rakyat, kemudian kaum
Muslimin membawa obor ilmu pengetahuan itu ke semua negeri yang mereka kuasai; di mana-mana mereka
mendirikan sekolah, akademi dan perguruan tinggi. Kiranya tak berlebihan jika dikatakan bahwa Renaissance yang
terjadi di Eropa itu dikarenakan agama Islam.
Adapun tuduhan yang ketiga, yaitu agama membuat orang menjadi malas karena mengajarkan supaya bedo'a
semata, ini juga tak dibenarkan oleh sejarah Islam. Qur'an Suci bukan saja mengajar-kan kepada manusia supaya
bekerja keras untuk memperoleh sukses dalam kehidupan mereka, juga mengajarkan kepada mereka seterangterangnya
bahwa "manusia tak akan memperoleh apa-apa selain apa yang mereka usahakan" (53:39), begitu pula
Qur'an benar-benar telah membuat suatu bangsa yang tak mempunyai kedudukan di dunia, yaitu bangsa Arab, menjadi
bangsa yang menonjol dalam segala segi kehidupan. Dan revolusi besar ini hanya terlaksana dengan mengobarkan
semangat kerja dan semangat juang dalam batin mereka. Memang benar bahwa Islam mengajarkan orang supaya
berdo'a, akan tetapi ini bukanlah untuk membuat orang supaya menjadi malas, melainkan do'a itu dimaksud, untuk
menebalkan dan menambah semangat perjuangan mereka agar mereka tidak putus asa atau kecewa dalam berjuang
11. Seperti yang dirumuskan dalam buku Emotion as the basis of Civilization, hal. 506.

8 ISLAMOLOGI
dengan selalu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Yang menjadi Sumber segala kekuatan. Jadi, do'a menurut
Islam, bukanlah penghalang, melainkan menjadi pendorong untuk bekerja keras.

 

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Islamologi" Lainnya