headerphoto

Islam, Perempuan, dan Kearifan Lokal

Kamis, 23 April 2009 11:53:25 - oleh : admin

Hubungan antara Islam dengan isu-isu lokal adalah kegairahan yang takpernah usai. Hubungan intim antara keduanya dipicu oleh kegairahan pengikut Islam yang mengimani agamanya: shalihun li kulli zaman wa makan-selalu baik untuk setiap waktu dan tempat. Maka Islam akan senatiasa dihadirkan dan diajak bersentuhan dengan keanekaragaman konteks. Dan fakta yang takbisa dipungkiri, kehadiran Islam tersebut dalam setiap konteks tertentu; taknihil dari muatan-muatan lokal yang mendahului kehadiran Islam. Dalam ungkapan yang lebih bernas, Islam tidak datang ke sebuah tempat, dan di suatu masa yang hampa budaya. Dalam ranah ini, hubungan antara Islam dengan anasis-anasir lokal mengikuti model keberlangsungan (al-namudzat al-tawashuli), ibarat manusia yang turun-temurun lintas generasi, demikian juga kawin-mawin antara Islam dengan muatan-muatan lokal.


Sayangnya kita masih menemukan pemeluk Islam yang menggunakan agamanya justru untuk membunuh potensi-potensi lokal. Mereka memiliki pandangan bahwa Islam lebih tinggi dan mulia dari anasir-anasir lokal, untuk itu anasir-anasir tersebut harus dibersihkan dan digantikan dengan nilai-nilai Islam. Proses inilah yang disebut "islamisasi" melalui cara penaklukan dan pengosongan. Tentu saja bisa dipastikan proses ini melahirkan ketegangan dan benturan yang bertujuan menafikan salah satu pihak yang dianggap rendah, hina, dan sesat. Nasib anasir lokal dalam lingkup ini akan terjajah oleh "islam" dan selalu cenderung akan tamat dibasmi; dicerabut hingga ke akar-akarnya.

Sumber utama arus ini berasal dari pemahaman bahwa Islam adalah konsep yang telah final, sempurna, dan tunggal. Dalam istilah yang sering mereka pakai "islam kafah", Islam dalam pandangan mereka adalah sebuah totalitas yang takmengenal kerendahan hati untuk membuka ruang dialog dan mengakui kesetaraan bagi kearifan-kearifan yang lain. Totalitas dalam watak ini menjadi totalitas yang otoriter. Totalitas hanya mengakui kesempurnaan yang satu, takada yang lain. Apabila sebuah konsep dipahami secara totaliter, lahirlah manusia yang memiliki watak tertutup dan sikapnya yang hanya bisa memaksa. Konsep totalitas ini bertentangan dengan hukum-hukum alam yang senantiasa mengenalkan perubahan. Oleh karena itu, konsep tersebut yang dari dasarnya takbebas dari kekurangan sejak lahir, namun diyakini konsep yang sempurna-takbisa dijalankan kecuali melalui modus-modus pemaksaan dan penaklukkan.

***

Arus ini di Indonesia dalam dedekade mutakhir mengalami sebuah rekayasa yang disebut "pengarusutamaan". Rekayasa ini datang dari kepentingan kekuasaan yang otoriter. Oleh sebab itu, Islam sebagai konsep totalitas memiliki kecocokan dan bahkan takjarang terbentuk dari jaring-jaring kekuasaan itu. Kedua belah pihak takbisa dipisahkan dan riwayatnya tergantung satu sama lain. Kekuasaan yang otoriter membutuhkan sebuah ideologi yang sempurna yang mampu menyihir dan memaksa rakyatnya hanya tunduk dan patuh. Dan konsep totalitas memenuhi hajat ideologi dalam versi itu.

Melalui pengalaman Republik ini, konsep Islam yang diyakini final dan sempurna berkelindan dengan syahwat kekuasaan. Konsep "negara Islam" adala tujuan dari kepentingan kekuasaan. Demikian juga gerakan yang ingin mengembalikan lagi "Piagam Jakarta" merupakan gerakan kekuasaan. Namun konsep-konsep itu gagal karena takditegakkan melalui sistem kekuasaan yang otoriter.

Kegagalan ini sangat disadari oleh, misalnya, kelompok Hizbut Tahrir-sebuah gerakan Islam transnasional yang datang belakangan ke Indonesia-yang takhanya menyerukan isu penerapan syariat Islam saja, namun harus melalui tegaknya sebuah sistem politik yang otoriter: khilafah. Dalam sistem ini seorang khalifah akan mengendalikan wilayah kekuasaannya takdibatasi oleh masa jabatan dan memiliki kewenangan sangat luas. Ia hanya dibatasi oleh "syariat" yang takbisa bicara sendiri, dan takmampu melontarkan kritik-kritik padanya. Pun demokrasi diharamkan oleh kelompok ini. Dan kewenangan rakyat hanya sampai pada fase pemilihan khalifah-melalui baiaat-untuk selanjutnya kedaulatan diserahkan pada "syariat" yang pemahamannya disuarakan oleh kepentingan dirinya sendiri dan pihak-pihak yang pro penguasa.<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->

Kegagalan dalam skala besar: membentuk sebuah negara Islam dan menyelundupkan "syariat"dalam konstitusi tidak membuat kelompok ini patah arang. Dengan menunggangi gerakan Reformasi, mereka merancang-ulang sebuah "konspirasi" yang lebih canggih: pembajakan. Takperlu bersusah-payah mengganti kendaraan, yang lebih penting bagaimana merebut kendali, membongkar muatan lama, dan menggantinya dengan penumpang baru.

"Konspirasi" ini dimulai dari tingkat pusat hingga daerah. Di Pusat dirancang sebuah undang-undang antipornografi dan pornoaksi (RUU APP), di daerah dikampanyekan perda-perda, peraturan-peraturan wali kota, bupati, camat hingga kepala desa yang bersumber dari "syariat".

Dan rancangan undang-undang, perda-perda dan peraturan-peraturan tersebut memantikkan konflik dengan muatan-muatan lokal. Secara keseluruhan konsep "syariat" tersebut tercipta dari kekuasaan, dan di sisi lain, konsep itu merupakan warisan dari sebuah konsep totalitas Islam: final, sempurna dan tunggal sehingga takmemberi ruang bagi kearifan lokal di mana pun untuk hidup damai bersamanya.

Simaklah komentar congkak Cholil Ridwan, salah seorang ketua MUI dan penyokong utama RUU APP. Menurutnya, pakaian adat Indonesia yang mempertontonkan aurat sebaiknya disimpan saja di museum. Itu harus dianggap sebagai pornoaksi dan masuk dalam kategori porno yang diatur RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Tegasnya, "pakaian-pakaian adat itu dimasukkan ke dalam museum, jangan dilestarikan, karena tidak sesuai dengan martabat bangsa ini, Biar menjadi sejarah bahwa itu pernah menjadi bagian dari bangsa ini."<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]-->

RUU APP jelas-jelas mewarisi sebuah konsep totalitas tentang Islam yang final dan tunggal, yang menentukan sebuah model busana perempuan, yang menetapkan satu definisi tentang aurat, tubuh, dan kriteria baik-buruk perempuan.

Sementara penerapan syariat Islam di daerah-daerah yang seluruhnya diawali dengan pemaksaan kewajiban berbusana muslimah, yang diteruskan dengan penegakan aturan dan prilaku yang dianggap "islami" telah meminggirkan dan merendahkan khazanah lokal: busana, tradisi, adat-istiadat, aturan, dan ajaran yang selama ini dipandang sebagai kearifan lokal. Anasir-anasir lokal itu tidak lagi dipahami kearifan, namun kekafiran yang harus dienyahkan.

Islam yang dipandang telah sempurna dan tunggal inilah yang selalu curiga dan memusuhi setiap ia menjumpai konteksnya. Dalam pandangan kelompok ini takada lagi riwayat kearifan lokal. Meskipun Islam turun dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda, namun Islam yang ingin diwujudkan adalah melalui bentuk dan versinya yang tunggal.

Hemat saya, inilah jahiliyah yang bercorak "islam". Namun jujur saja, pandangan ini arus utama pemeluk Islam dalam memahami dan meyakini agamanya: sebuah konsep totalitas yang sempurna dan tunggal, totalitas yang otoriter. Pandangan dan sikap jahiliyah tersebut bersumber dari kejahilan mereka dalam memahami substansi ajaran Islam, dan gerak laju-mundur Islam dalam praktik sejarah.

***

Maka takada jalan lain kecuali memahami kembali apa itu Islam dan bagaimana ia hidup dalam konteksnya yang sangat beragam. Benarkah Islam yang telah turun sejak 1400 tahun yang lalu hanya mengenalkan satu versi? Apakah persenyawaan antara Islam dengan kekayaan unsur-unsur lokal dalam setiap ruang dan waktu tidak menciptakan keanekaragaman Islam?

Saya ingin mengajukan sebuah teori tentang Islam sebagai "akumulasi dari serpihan-serpihan kearifan budaya lokal" (tarakumât min raqâiq al-tsaqâfât) manakala Islam itu mulai tumbuh dan terus berkembang. Kearifan lokal tersebut merujuk secara khusus pada konteks dan lingkungan kehidupan Nabi Muhammad dan secara umum pada sebuah periode sejarah sosial politik dan ekonomi abad ke-7 Masehi.

Dalam studi singkat saya, doktrin monoteisme Islam (ketauhidan) berasal dari dua komunitas teologis di Mekkah, pertama, "al-hanifiyah": yang mendaku pewaris ajaran Ibrahim, dan kedua komunitas ahli Kitab (Yahudi dan Kristen).<!--[if !supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]--> Maka sangat mustahil memisahkan Islam dari pengaruh komunitas-komunitas tersebut.

Sedangkan Al-Quran sebagai sumber utama doktrin Islam proses terciptanya takkedap dari budaya lokal. Pewahyuan Al-Quran melalui sebuah proses kolektif baik dari sumber maupun proses kreatifnya. Salah satu bukti, kisah-kisah yang tertera dalam Al-Quran berasal dari folklor saat itu di sana.<!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]-->

Dan dalam studi yang dilakukan Khalil Abd Karim, "syariat Islam" itu tumbuh melalui akar-akar budaya dan adat-istiadat pada masa itu. Misalnya, pemujaan terhadap Ka'bah, hari Jumat, haji, puasa, pernikahan, dan lain-lain adalah tradisi-tradisi Jahiliyah yang telah "diislamkan".<!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]-->

Keterbukaan Islam dalam bersenyawa dengan muatan-muatan lokal juga dibuktikan melalui pandangan Al-Quran terhadap kearifan kitab-kitab suci sebelumnya, Taurat dan Injil. Al-Quran memberikan pengakuan konstitusional dan legislasi terhadap kitab-kitab itu. Peran Al-Quran bukan "penghapus" dan "pembatal" tapi "penguat" (mushaddiq) dan "penjaga" (muhaymin) (Al-Ma'idah [5]: 48) bagi kitab-kitab sebelumnya. Al-Quran menegaskan Taurat sebagai "petunjuk" dan "cahaya" (hudan wa nûr) yang terdapat di dalamnya "hukum Allah" (fîhâ hukm Allâh). Al-Quran juga menegaskan Injil sebagai "petunjuk" dan "cahaya" (hudan wa nûr) dan "penguat" (mushaddiq) ajaran Taurat (Al-Ma'idah: 43, 44, 46).

Pun Al-Quran mengakui, memerintahkan dan mempraktikkan hukum-hukum yang termaktub dalam kitab-kitab itu. Tiga penggalan ayat yang sering digunakan kelompok radikal Islam: "barang siapa yang tiada memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah": maka merekalah orang kafir (5: 44); orang yang zalim (5: 45); dan orang yang fasik (5: 47) hakikatnya kecaman yang keras bagi mereka yang tidak mempraktikkan hukum Taurat dan Injil yang diakui keabsahannya oleh Al-Quran.

Masih dalam surat yang sama, ayat 45, hukum qishâsh (balasan setimpal: nyawa dengan nyawa, mata dengan mata dst.) yang dikenal sebagai sanksi pidana dalam fikih Islam merupakan produk asli hukum Taurat.

Melalui kajian terhadap doktrin Islam dan sejarah proses terciptanya, maka Islam adalah sebuah produk anyaman yang bahan bakunya berasal dari lingkungannya. Bagi saya inilah watak asli Islam. Ia akumulasi serpihan-serpihan kearifan lokal, dan dari kesejarahannya merupakan proses "kesinambungan" dan "perubahan" dari periode-periode sebelumnya dan konteks yang mengitarinya.

Kearifan Islam hakikatnya kearifan-kearifan yang berasal dari sebuah masa sebelumnya yang nantinya dikaburkan dengan istilah "masa jahiliyah". Muhammad yang baru ditahbiskan menjadi rasul dalam usia 40, sebelumnya telah masyhur memiliki kearifan-kearifan lokal tersebut: jujur, amanah, cerdas dan santun, sehingga ia dijuluki al-amîn (orang yang bisa dipercaya). Hal ini menunjukkan nilai-nilai luhur tersebut juga dijunjung tinggi masyarakat pra-Islam. Dalam sabda Nabi, "Orang terbaik dari kalian pada masa Jahiliyah, ia akan menjadi terbaik pada masa Islam, (khayrukum fil jahiliyah khayrukum fil Islam).

Adalah sinis dan picik apabila menyatakan zaman pra-Islam hanyalah sebuah masa yang penuh diselimuti kegelapan dan kebodohan, meskipun saya tak hendak menutup mata bahwa zaman itu juga mengenal praktik-praktik "penyimpangan" yang juga bisa terjadi pada setiap masa. Pandangan sinis dan picik tersebut hanya ingin meneguhkan sebuah pandangan totalitas Islam yang membawa pencerahan bagi konteksnya dan berbeda dari masa sebelumnya yang diliputi kegelapan dan kebodohan.

Dalam masa pra-Islam, praktik penyimpangan yang paling terang-benderang adalah penindasan martabat perempuan. Namun bukan berarti tidak ada sama sekali dalam masyarakat di era itu yang memiliki pandangan yang luhur dan sikap bijak terhadap perempuan. Tradisi menanam bayi perempuan hidup-hidup (wa'dul banât) hanya dilakukan beberapa kelompok kabilah saja: Bani Tamim, Kandah, Rabi'ah dan Mudlar. Dan tradisi ini tidaklah dipandang sebagai kearifan kecuali gengsi kelelakian oleh kabilah-kabilah yang menganutnya. Bahkan bagi kabilah-kabilah lain, praktik ini sasaran cemoohan.

Citra Khadijah sebagai seorang perempuan yang kaya, cerdas, dan memiliki nilai-nilai yang luhur berasal dari masyarakat itu. Pun ia memperoleh pengakuan yang tinggi. Perempuan ini jauh sebelum menikah dengan Muhammad, telah dijuluki, sayyidah nisâ Quraysh-Puan dari seluruh perempuan bangsa Quraish.

Dalam kajian Fatima Mernissi, pada zaman itu juga, tumbuh benih-benih masyarakat matriarki. Ia mencontohkan tradisi nikah mut'ah, poliandri, dan nikâh al-shadîqah.<!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]--> Namun hubungan gender yang bernuansa matriarki seperti ini, tidak terlalu populer dalam tradisi-tradisi masyarakat pra-Islam.<!--[if !supportFootnotes]-->[7]<!--[endif]--> Karena potret masyarakat waktu itu adalah masyarakat patriarki yang menjadikan laki-laki sebagai pusat bagi segala aktivitas, nilai-nilai dan standar sosial. Laki-laki zaman itu sumber inspirasi, hukum, aturan, dignity (gengsi) dan kebangggaan tersendiri selain ikatan suku dan ikatan darah.

Maka, posisi "Islam" waktu itu terhadap kearifan-kearifan lokal sebagaimana posisi Al-Quran terhadap kitab-kitab suci sebelumnya, bukan "penghapus" dan "pembatal" justru "Islam" zaman itu "penguat" dan "penjaga" khazanah kearifan lokal.

Posisi wahyu bukan kriteria untuk membedakan yang baik dan buruk-karena tugas ini merupakan fungsi akal-budi-wahyu lebih berperan pada persoalan psikis untuk mengikis keraguan (al-syak wal rayb) pada capaian-capaian dari akal-budi.

***

Bagi saya, Islam tidak mengenalkan sebuah konsep yang toliter dan tunggal karena setiap Islam bersinggungan dengan keanekaragaman konteks, lahirlah keragaman pandangan tentang Islam. Apabila melakukan pengamatan jeli terhadap periode risalah kenabian Muhammad, kita akan mengenal dua konsep besar tentang Islam, yakni "Islam Mekkah" dan "Islam Madinah". Dua varian Islam ini lahir dalam dua perbedaan konteks sehingga hasil pergumulan Islam dengan dua konteks tersebut bisa dibedakan dengan jelas.

Sebuah studi yang menguraikan dua bentuk Islam ini dilakukan seorang pemikir Sudan, Mahmoud Muhammad Thaha, yang riwayatnya berakhir di tiang gantungan karena penguasa di negerinya sangat menentang ide-idenya. Studi Thaha tersebut berangkat dari kajian klasik tentang dua periode Islam: Mekkah dan Madinah yang dikenal dalam kajian studi-studi Al-Quran (‘Ulûm al-Qur'ân) yang melakukan identifikasi antara âyât makkiyah (ayat-ayat yang turun di Mekkah) dan âyât madaniyah (ayat-ayat yang turun di Madinah).

Namun studi klasik ini tidaklah memadai karena identifikasinya hanya menyentuh permukaan, ibaratnya hanya mengetahui si A yang berasal dari kawasan X lebih tua dari si C yang berasal dari kawasan Y, karena si A lahir sebelum si C. Padahal yang dibutuhkan identifikasi si A dan si C memiliki kepribadian masing-masing karena keduanya lahir dan berkembang di lingkungan berbeda.

Dan yang lebih menyesatkan lagi muncul rekomendasi dari studi klasik tersebut, periode Islam Madinah banyak menghapus (nâsikh) periode Islam Mekkah. Padahal praktik-praktik Islam di Madinah justru banyak melakukan "penyimpangan" terhadap cita-cita ideal Islam Mekkah, khususnya soal kebebasan beragama, kesetaraan martabat manusia, dan relasi jender laki-laki dan perempuan.

Contoh yang sederhana, soal pernikahan Muhammad dan hubungannya dengan ahli kitab. Pernikahan Muhammad dengan Khadijah selama 28 tahun di Mekkah, 13 tahun di dalamnya Muhammad diangkat sebagai rasul, Muhammad setia dengan monogami. Namun kehidupan Muhammad di Madinah berubah, poligami dilegalkan kembali, dan Muhammad sendiri memiliki 10 istri dan 2 selir (istri yang masih berstatus milkul yamîn: budak).<!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]--> Muhammad di Mekkah yang perannya hanya memberikan peringatan (mudzakkir) dan toleran terhadap ahli kitab (Yahudi dan Kristen)-lawannya hanya kaum pagan Quraish saja-namun di Madinah Muhammad menyerukan peperangan-peperangan yang motifnya lebih kuat unsur politis tapi berkelindan dengan persoalan agama, dan juga menghabisi kaum Yahudi.

Aturan dan hukum yang diskriminatif terhadap perempuan juga turun pada periode Madinah, "harga" perempuan separuh laki-laki baik dalam hak warisan, persaksian, dan diperbolehkan memukul istri.

Praktik ini terjadi karena Islam di Madinah telah menjadi lembaga kekuasaan, sehingga lebih dikemukakan sebuah strategi kompromistis terhadap adat-istiadat meskipun diskriminatif terhadap perempuan dengan tujuan menghindarkan konflik dan membangun stabilitas dengan mengorbankan salah satu pihak.

Sebuah riwayat yang masyhur, dikisahkan seorang perempuan mengadu pada Nabi Muhammad karena suaminya telah menampar wajahnya. Nabi memerintahkan istri tersebut melakukan qishâsh terhadap suaminya: menampar balik. Namun sikap ini memantik konflik, dan laki-laki Arab saat itu membangkang. Akhirnya turun ayat al-rijâl qawwâmûn ‘alâ al-nisâ'-kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan-sebagai kompromi.

Ayat tadi menegaskan bahwa martabat laki-laki tetap di atas martabat perempuan. Dan dengan pongah, lelaki Arab waktu itu juga menilai bahwa perempuan "tidak bisa memacu kuda, tidak mampu kerja bersusah-payah, apalagi mengusir musuh". Walhasil praktik qishâsh yang tujuannya pengakuan kesetaraan antara kedua belah pihak, tidak terjadi dalam relasi laki-laki dan perempuan.

Dan letak masalah yang sebenarnya, apabila Islam Madinah ini dipaksakan hadir kembali pada konteks yang lain. Islam Madinah memiliki semangat "arabisme" yang sangat kuat. Ia sarat memuat unsur-unsur lokal pada waktu itu: pengalaman, adat-istiadat, kepentingan kekuasaan. Sehingga ikhtiar menegakkan Islam Madinah ini justru mengalami banyak benturan. Dan sejarah Islam selanjutnya lebih dikenal dengan banyak peperangan dan penaklukan, karena keinginan kuat menegakkan Islam Madinah dalam konteks dan kawasan yang lain. Islam Madinah inilah yang mewariskan konsep totalitas, bahwa Islam telah sempurna, dan setelah wafatnya Nabi takada lagi perubahan dan penambahan.

Pandangan ini jelas keliru, karena dalam perkembangan Islam, dalam setiap konteks melahirkan khazanah keislaman yang kaya, setiap tempat dan generasi memiliki masing-masing mazhab (aliran hukum Islam), firqah (aliran teologis), dan tarekat (aliran tasawuf). Melalui persinggungan Islam dan muatan lokal itu secara terus-menerus tumbuh jenis-jenis baru Islam.

***

Pengalaman Islam di Indonesia adalah keintiman cita-cita ideal Islam-bukan "arabisme"<!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]-->-dengan anasir-anasir lokal yang telah mengakar kuat jauh sebelum Islam datang. Islam di Indonesia bukanlah konsep totalitas yang otoriter, sehingga penyebaran Islam di Indonesia tidak membutuhkan peperangan dan penaklukan sebagaimana di Jazirah Arab sana. Karena bukan konsep totalitas, maka Islam di Indonesia mampu membuka pintu dialog yang lebar bagi kearifan tradisi-tradisi lokal.

Karakter Islam di Indonesia merupakan kelanjutan watak asli Islam Mekkah yang terbuka pada kearifan lokal bukan pada "arabisme" sebagaimana Islam Madinah dan jauh dari kleim kesempurnaan.

Dalam saat singkat, kita bisa ingat kembali kisah-kisah Wali Songo yang mengenalkan Islam melalui kearifan lokal: adat-istiadat, kesenian, pengetahuan dan arsitektur. Sehingga lahir Islam yang asli Indonesia, mesjid berarsitektur Hindu-Budha (Masjid Demak dan Masjid Kudus), tradisi tahlilan yang bukan tradisi Arab, dan lain-lain.

Sedangkan gerakan kaum puritan dan Wahabi yang berikhtiar membersihkan khazanah-khazanah lokal datang belakangan. Apalagi Hizbut Tahrir dan partai-partai baru yang berasaskan Islam, mereka yang gemar mengusung jargon Islam sebagai konsep totalitas yang otoriter, namun corak keislaman mereka tidak memiliki akar sejarah di republik ini. Demikian juga gerakan terorisme yang sebenarnya adalah tumpukan trauma manusia-manusia yang putus asa di kawasan lain yang dikirim ke Indonesia.

Islam yang asli Indonesia adalah corak keislaman yang bergerak melalui tataran kultural, Islam bisa tegak dan dijalankan pemeluknya bukan karena telah menjadi aturan yang mengikat, atau adanya sanksi yang mengancam, namun karena Islam yang telah menjadi kebiasaan, adat-istiadat, dan kebutuhan masyarakat.

Karena itu upaya kalangan kaum puritan dan Wahabi yang ingin mengubah wajah Islam Indonesia yang selama ini sangat menghargai dan bahkan mengadopsi kearifan-kearifan lokal yang ada sebelum Islam datang, akan mengancam karakter Islam di Indonesia dan konsekuensinya adalah merusak keutuhan republik ini (Mohamad Guntur Romli).

 


<!--[endif]-->

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]--> Baca buku-buku standar kelompok ini yang ditulis oleh Taqiyuddin al-Nabhani, sebagai pendiri kelompok ini, Nidzam al-Islam (Sistem Islam), ide-ide al-Nabhani selanjutnya dikembangkan oleh Abdul Qadim Zallum, Nidzam al-Hukm fi al-Islam (Sistem Pemerintahan dalam Islam), sedangkan pengharaman demokrasi melalui risalah yang ia tulis, al-Dimuqrathiyah Nidzam Kufr, Yahrumu Akhdzuha wa Tathbiquha aw Da'wah ilayha (Demokrasi Sistem Kafir, Diharamkan Mengadobsi, Menerapkan, dan Menyerupan), untuk mengetahui kelompok ini silakan rujuk http://www.hizb-ut-tahrir.org/ dan http://www.khilafah.net/

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]--> Kompas, 13 Maret 2006, http://www.kompas.com/utama/news/0603/13/174110.htm

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]--> Mohamad Guntur Romli, Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen, Bentara, Kompas, 1 September 2007

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[4]<!--[endif]--> Mohamad Guntur Romli, Al-Quran Antara Iman dan Sejarah, Koran Tempo, 4 Mei 2007 dua tulisan tersebut tersedia di web pribadi saya, http://guntur.name

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[5]<!--[endif]--> Khalil Abd Karim, al-Judzur al-Tarikhiyah li Syariah al-Islamiyah, Cairo: Sina Li an-Nasy, 1990

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]--> Nikâh al-shadîqah; seorang laki-laki menikahi perempuan, namun dia tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap istrinya, kecuali nafkah batin. Sang istrinya tetap tinggal dan di bawah tanggung jawab kabilahnya. Sang suami tidak berhak atas anak yang lahir, dan anak tersebut bernasab ke kabilah ibunya

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[7]<!--[endif]--> Fatima Mernissi, al-Jins ka Handasah Ijtimâ‘iyyah, Beirut: al-Markaz al-'Arabî al- Tsaqâfî, 1996, hlm. 48

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]--> Bassam Muhammad Hamami, Nisâ' Hawla al-Rasûl, Damaskus: Dar Daniyah, 1993

 

<!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]--> "Islam" yang dipengaruhi oleh adat istiadat, dan budaya Arab yang tidak arif

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Islamologi" Lainnya